Musik secara unik menambah fungsi otak yang dibutuhkan dalam mempelajari matematika, sains, catur, serta permesinan.
“Sik sik musik saya suka musik, engkau suka musik, s’luruh dunia suka musik.” Penggalan lagu milik penyanyi kawakan Titiek Puspa ini sangat populer karena memang benar musik disukai oleh siapa saja.
Musik adalah bahasa universal atau musik sebagai ekspresi diri, merupakan berbagai pernyataan untuk melukiskan betapa musik mewarnai kehidupan manusia dan dapat diterima di bagian manapun di dunia. Meski dapat dikatakan bahwa semua orang suka musik, namun ternyata tak banyak yang memahami dan memiliki kecerdasan musik.
Kecerdasan bermusik merupakan salah satu dari delapan kecerdasan teori Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh Dr. Howard Gardner, guru besar pendidikan dari Harvard University, AS. Menurutnya, kecerdasan bermusik mencakup kepekaan dan atau penguasaan terhadap nada, irama, pola-pola, ritme, tempo, instrumen, dan ekspresi musik, hingga seseorang mampu menyanyikan lagu, bermain musik dan menikmati musik.
Gardner mengatakan, pada dasarnya setiap anak memiliki kecerdasan musikal secara alamiah. Dari hasil penelitiannya Gardner menemukan fakta bahwa bayi usia dua bulan sudah dapat menyenandungkan nada tinggi dan melodi nyanyian yang didengarnya, misalnya lagu yang disenandungkan ibunya. Selain itu, di usia empat bulan bayi sudah mampu mengikuti ritme/irama lagu. Kecerdasan musik alamiah pada anak tersebut bertambah atau justru berkurang tergantung pada lingkungannya. Menurut psikolog sekaligus Managing Partner Jagadnita Consulting, dra. Clara Kriswanto, MA, CPBC, kecerdasan musik dapat distimulasi sejak dalam kandungan hingga usia tiga tahun. "Karena pada usia-usia ini otak anak sedang bertumbuh pesat," katanya.
Clara memaparkan, imitasi dan eksplorasi terhadap berbagai bunyi, gambar dan gerakan seyogyanya menjadi bagian dari pengalaman anak sehari-hari. Untuk mengasah kecerdasan bermusik anak-anak, orangtua atau guru dapat secara imajinatif bernyanyi, berbicara, bermain, mendengarkan, menggambar, memahat, menonton, menari dan meniru berbagai gerakan bersama anak-anak.
Perluas area otak
Kecerdasan musik diindikasikan memiliki banyak pengaruh terhadap perkembangan kognitif dan juga aspek emosional. Bentuk yang paling sederhana misalnya dengan mengenal dan menghafal nada-nada, maka akan dapat mengasah daya ingat dan mengembangkan daya imajinasi anak, yang akan menjadikannya lebih kreatif. Untuk memperkuat bukti bahwa musik mempengaruhi perkembangan kognisi maka banyak dilakukan penelitian dan percobaan. Salah satunya yang dilakukan oleh Dr. Frances Rauscher dari University of Wisconsin dan Dr. Gordon Shaw dari University of California.
Mereka melakukan percobaan terhadap tiga kelompok anak usia prasekolah. Kelompok pertama memperoleh pelajaran privat piano/keyboard dan menyanyi. Kelompok kedua menerima pelajaran privat komputer dan kelompok ketiga tidak memperoleh latihan khusus apapun. Kelompok anak yang memperoleh latihan piano atau kibor tersebut menunjukkan hasil tes 34 persen lebih tinggi daripada yang lain, termasuk dari kelompok anak yang belajar komputer. Menurut Shaw, musik melibatkan rasio, pembagian, proporsi serta daya pikir dalam ruang dan waktu. Berkaitan dengan hal tersebut musik secara unik menambah fungsi otak yang dibutuhkan dalam mempelajari matematika, sains, catur, serta permesinan.
Para peneliti dari University of Munster di Jerman juga menemukan bahwa pelajaran musik bagi anak secara nyata memperluas area otak. Area yang digunakan untuk menganalisis tinggi-rendahnya nada meluas sebesar 25 persen pada para musisi dibandingkan orang-orang yang tidak pernah memainkan alat musik. Area tersebut membesar melalui latihan dan pengalaman. Semakin dini musisi memulai latihan musik, maka akan semakin besar pula area tersebut pada otak.
Para pakar pun sepakat, musik tak hanya berkaitan dengan perkembangan kognitif, tapi juga mengembangkan kecakapan sikap, tingkah laku, dan disiplin anak. Melalui musik rasa percaya diri anak meningkat yang kemudian menular ke bidang lainnya, seperti matematika, geografi, ekonomi, dan sebagainya. Sebuah situs internet menuliskan, berdasarkan penelitian, anak yang mempelajari musik tradisional Cina, Jepang atau lainnya yang disertai gerakan-gerakan seperti taichi atau yoga dapat membuat anak lebih tenang dan memiliki konsentrasi tinggi.
Hal ini umumnya memotivasi para orangtua untuk memasukkan anaknya ke tempat kursus musik sejak dini. Namun, seringkali menjadi dilema jika orangtua belum bisa melihat minat dan bakat musik anak, maka akan ada rasa terpaksa dalam diri si anak jika dimasukkan dalam kursus musik. Menurut salah satu pengajar senior di Yamaha Music, Elisabeth H. Suryadinata, sebenarnya tidak ada masalah untuk memasukkan anak ke kursus musik meskipun belum terlihat bakat musiknya. Kak Eca, begitu ia biasa dipanggil, memaparkan, ”Terkadang minat dan bakat itu baru muncul setelah latihan beberapa lama. Kalaupun akhirnya si anak memang tidak berminat atau berbakat, namun dia telah belajar banyak hal lain dari kelas kursus yang akan berguna,misalnya mengenal not angka.” Elisabeth menyambung, dari pengalamannya mengajar musik, mayoritas anak yang cemerlang prestasinya dalam bidang musik juga memiliki prestasi cemerlang di sekolah.
Yuk Belajar Musik
Pakar pendidikan musik dari Ohio of State University, AS, Jim McCutcheon M.M.Ed dalam artikelnya Private Music Lesson for Kids, memaparkan biasanya orangtua ingin anak belajar alat musik sedini mungkin. Tapi, sebelumnya orangtua perlu mempertimbangkan pemilihan guru musik, waktu yang tepat, peraturan berlatih di rumah, dan harapan orangtua sendiri. Berikut beberapa faktor yang harus Anda pertimbangkan sebelum mengajak si kecil belajar di kelas musik,
a.Perkembangan mental dan fisik anak. Apakah rentang perhatian si kecil lebih dari 2 menit? Karena di tahun awal, anak setidaknya memiliki kemampuan mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti arahan yang diberikan selama 15-30 menit.
b.Alat musik yang dimainkan. Perhatikan alat musik yang tepat sesuai perkembangan usia anak. Ada beberapa alat musik yang tidak sesuai dengan anak berusia di bawah 10 tahun, seperti terompet, karena membutuhkan kekuatan fisik yang lebih besar. Sedangkan piano, gitar, biola dan alat musik perkusi sudah bisa dimainkan anak yang lebih kecil usianya.
c.Pemilihan guru musik. Kendati sang guru memiliki kemampuan yang luar biasa di bidang penguasaan alat musik, tapi jika tak bisa berkomunikasi dengan anak akan percuma. Sebaiknya pilih guru yang mahir berinteraksi dengan anak-anak.
d.Bisakah meluangkan waktu? Jika Anda sudah memutuskan anak belajar di sekolah musik, artinya Anda juga bersedia meluangkan waktu untuk sekedar menemani anak berlatih di rumah setiap hari. Dengan demikian, Anda bisa melihat perkembangan dan potensi anak di bidang alat musik tersebut.
Aktivitas Stimulasi Kecerdasan Musik Sesuai Usia
- 0-3 bulan : Berikan mainan yang bila digoyangkan atau digerakkan akan mengeluarkan bunyi; ajak juga si kecil untuk mendendangkan lagu-lagu sederhana. Hal-hal ini akan untuk melatih kepekaan responsnya terhadap suara.
- 4-6 bulan : Ajak bayi untuk bergerak mengikuti irama musik yang diputar, juga bertepuk tangan sambil menyenandungkan lagu sederhana
- 6-9 bulan : Pada usia ini Anda dapat lebih interaktif lagi mengajaknya bernyanyi dan menari, sebab si kecil sudah mulai bisa bergumam, selain itu gerakan kaki dan tangannya pun lebih bisa mengikuti irama.
- 9-12 bulan : Bayi bisa diajak mengeksplorasi alam sekitarnya dan bisa bermain menirukan suara-suara burung, kucing, ayam, anjing, dsb. Atau juga suara-suara orang menjajakan roti, es, bakso, dll.
- 1-3 tahun : Buatlah permainan-permainan menciptakan musik, misalnya dengan alat-alat makan (piring, sendok, gelas), hal ini dapat membantunya mempelajari irama, lemah-kuatnya nada serta tinggi-rendahnya bunyi. Untuk melatih kepekaan nada anak juga dapat diperdengarkan lagu-lagu dengan irama yang berbeda saat dia makan, tidur, menggambar, atau bermain.
4 tahun ke atas : Stimulasi sederhana seperti memperdengarkan musik atau mengajaknya bernyanyi bersama tetap baik untuk dilakukan. Jika Anda ingin lebih menstimulasi kemampuan musikalnya, anak dapat dimasukkan ke kursus musik atau paduan suara. Dalam hal ini orangtua harus lebih peka mengenali minat dan bakatnya, jangan sampai anak merasa terpaksa dan jangan menetapkan target pencapaian yang terlalu tinggi.
(diambil dari Majalah InspireKids)